Sosialisasi Nilai SHAPUZAHAJ (Shalat, Puasa, Zakat, Haji) Dalam
Kehidupan Sebagai Bentuk Implementasi Umat Madani Dalam Melahirkan Peradaban
Islam.
Islam merupakan
sebuah agama sekaligus peradaban yang sejak kehadirannya telah membawa konsep
dan misi peradaban yang inheren dalam dirinnya. Peradaban islam bersumber pada Din:
agama, yang berasal dari wahyu Allah. Oleh sebab itu, peradaban biasa dikenal
dengan istilah tamaddun/ madaniyyah, karena bersumber pada Din
tersebut.[1] Maka
umat madani sendiri dapat disimpulkan sebagai umat yang memajukan peradaban. Pusat
tamaddun Islam dalam sejarah bertempat di Yatsrib yang kelak berubah menjadi
Madinah. Maka, kota Madinah menjadi tempat diploklamirkannya peradaban islam
tersebut kepada dunia. Menurut Muhammad ‘Abduh, kata madaniyyah memang lebih
tepat digunkan untuk menyebut peradaban islam.[2]
Berangkat dari hal tersebut, sumber peradaban islam ialah agama
islam itu sendiri, dan sumber dari agama islam ialah Al- Quran dan Hadits
sebagai penjelasnya. Oleh karena itu, Al- Quran dijadikan sebagai sumber pokok
pembentukan peradaban ini. Al-Quran menduduki posisi yang sangat vital juga
terhormat dalam kehidupan masyarakat muslim dunia. Karena selain sebagai
pedoman, Al-Quran juga merupakan sumber peradaban yang bersifat historis dan
universal. Dengan kata lain, fungsinya sebagai pedoman ini menjadi pusaka
pegangan umat manusia dalam mengemban amanah kekhalifahan di muka bumi ini.[3]
Posisinya yang demikian penting itu, membuat Al-Quran menjadi pusat perhatian
yang besar dalam khazanah keilmuan islam, berawal dari zaman Rasulullah Saw.
hingga era kontemporer.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwasannya Islam dan peradaban
merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, maka apakah benar islam yang berpedoman pada Al-
Quran memiliki andil yang besar dalam peradaban dunia ini?
Al- Quran sebagai pedoman hidup mausia, kebenaran dan kebaikan
implementasinya dikembalikan kepada umat islam sendiri, apakah umat islam
benar- benar mentadabburi dan melaksanakan isi Al- Quran tersebut atau tidak.
Memang benar bahwa membacanya dapat menghasilkan pahala. Namun persoalannya
ialah bahwa Al- Quran sebagai petunjuk sekaligus pengingat manusia akan menjadi
sulit atau bahkan tidak berperan secara signifikan sesuai kehidupan manusia,
jikalau membacanya tanpa ada pemahaman sama sekali ataupun sebaliknya, jika
telah dipahami namun tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari.
Maka, dari sinilah dapat terlihat betapa pentingnya Al- Qur’an itu dalam sebuah
kehidupan, dan perlu ditegaskan bahwasannya Al- Quran mengandung banyak
motivasi dan prinsip- prinsip moral yang bersifat normatif[4].
Sebuah peradaban yang kokoh selalu ditopang dengan empat asas utama, diantaranya ialah
kekuatan poitik, kekuatan ekonomi, lembaga- lembaga pendidikan yang
berkualitas, dan nilai- nilai keagamaan yang menjadi sumber utama tujuan hidup.
Keempat asas ini menjadi sebab utama kejayaan islam di abad- abad yang lalu.[5]
Namun, pokok inti dari keempat asas diatas ialah nilai- nilai keagamaan yang
menjadi sumber utama hidup, hal tersebut dapat dilihat dari janji Allah yang
akan mewariskan bumi ini kepada hamba- hamba nya yang shaleh. Mengingat kembali
tujuan diciptakannya manusia ke muka bumi ialah sebagai khalifah, maka dalam
melaksanakan misi kekhalifahan manusia, sebagai jalan untuk membangun peradaban
di muka bumi ini, hal tersebut tidak dapat terlepas dari perihal keshalehan,
yang bersumber dari nilai- nilai keagamaan.
Saleh dalam dimensi esoterik ialah mereka yang beriman teguh,
berhati dan beperilaku mulia, mereka yang senang dan taat beribadah. Adapun
saleh dalam dimensi ekosetrik ialah mereka yang mampu bekerja secara
profesional serta memiliki skill dan kompetensi. Karena manusia yang memiliki
pribadi seperti itulah yang akan dipercaya oleh Allah Swt juga oleh manusia.
Yaitu mereka sang visioner- orang- orang
yang layak menjadi pemimpin.[6]
Setelah mengetahui
pokok dari asas- asas peradaban ialah terdapat dalam nilai- nilai keagamaannya,
maka perlu adanya implementasi nilai- nilai tersebut kedalam kehidupan manusia,
guna mewujudkan peradaban islam yang bertonggak Qurani. Nilai- nilai utama dalam agama islam ialah
terdapat pada Ibadah yang telah disyari’atkan oleh Allah di dalam Al- Quran.
Juga ibadah yang menjadi rukun islam bagi para muslim. Diantara nilai- nilai
tersebut ialah yang terdapat pada Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji.[7]
1.
Kewajiban
Shalat
Shalat merupakan pillarnya agama
islam. Ibadah shalat membentuk dua hubungan, yaitu hubungan vertikal kepada
Allah dan horizontal kepada manusia. Hubungan horizontal tehadap manusia dapat
diambil dalam kesempatan shalat berjama’ah. Dengan adanya shalat berjama’ah
maka akan menjalin tali silaturahmi, terlebih agama islam mensyari’atkan bagi
kaum adam untuk shalat jum’at. Maka dalam kesempatan itu pula umat muslim dapat
memperkuat tali persaudaraan diantara mereka.
Hal yang terpenting dari ibadah
shalat ialah, akan lahir manusia- manusia yang bersih jiwanya dari berbagai
pengaruh kehidupan manusia yang distruktif[8], pernyataan
ini diperjelas oleh firman Allah dalam surat Al- Ankabut ayat 45:
“Dirikanlah Shalat Sesungguhnya shalat
dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran”
Perbuatan keji merupakan
perbuatan yang tidak memiliki moral, yang akan mengakibatkan
manusia jatuh kejurang kehinaan jauh dari derajat manusia yang sesunggunya.
Maka shalat sebagai penangkal dari kerusakan baik individu maupun masyarakat.[9]
2.
Kewajiban
Zakat
Metode pengumpulan zakat serta
pendistribusiannya menjadi satu model dalam usaha menciptakan kemaslahatan
umat, keharmonisan didalamnya serta menjadi sarana perekat umat. Pendistribuan
Zakat telah ditetapkan Allah dalam surat al- Taubah ayat 60:
“Sesungguhnya sedekah-sedekah
(zakat- zakat) itu hanyalah untuk orang- orang fakir, orang- orang msikin, amil- amil zakat, .....”
Menurut al- Qurthubi, dana shadaqah,
infaq, dan santunan kepada kaum Dhu’afa untuk memberantas kemiskinan, dapat
dikembangkan lebih lanjut.[10] Adapun
menurut M Yusuf Musa sumber- sumber seperti ini merupakan sumber dana yang tak
terbatas, karena zakat merupakan kewajiban yan tidak pernah habis.[11] Jika
sistem distribusi dan pendanaan ini mampu dikelola dengan baik, maka hal ini
menjadi kontribusi besar umat islam dalam membangun masyarakat.
3.
Kewajiban
Puasa
Peradaban tidak akan pernah lepas
dari segala aspek kehidupan masyarakat. Selain beradab dalam politik, ekonomi,
dan hukum, peradaban juga diperlukan dalam bermasyarakat. Peradaban juga
dinamakan dengan civilization, yaitu suatu istilah dalam menggambarkan
keteraturan yang menggambarkan sebuah kemajuan serta kemakmuran.[12]
Namun keteraturan tidak akan ada tanpa kehendak kuat dalam mengendalikan
kemauan atau ego masing- masing. Maka disinilahperan ibadah puasa dalam
mengembalikan fitrah manusia. Karena puasa mampu membuat manusia bertindak
menguasai, bukan dikuasai egonya sendiri. Penguasaan terhadap ego sendiri
merupakan hasil dari perang besar melalui ibadah puasa. Secara fisiologis,
puasa menurunkan metabolisme tubuh. Maka puasa diibaratkan alat pendingin mesin
tubuh yang panas. Maka dengan tubuh yang demikian, pikiran menjadi jernih dan
efisien.[13]
4.
Ibadah
Haji sebagai deklarasi Peradaban Kemanusiaan.
Pembangunan ka’bah merupakan
pembangunan peradaban dunia baru yang dibangun oloeh Ibrahim. Peradaban yang
dibangun tidak berdasarkan nilai- nilai materialisme, melainkan dasar dari nilai-
nilai keilahiyan yang bersifat
spiritual. Melalui ibadah haji, umat islam dituntut untuk mencari pencerahan
diri dengan cara intropeksi diri selama di tanah suci dalam rangka membangun
peradaban baru di tempat masing- masing dengan menjunjung tinggi nilai- niali
kemanusiaan. Sebagaimana khutbah Nabi Muhammad pada haji wada yang intinya
menekankan sebuah persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, serta larangan
melakukan perilaku keji terhadap kaum yang lemah. Makna nilai kemanusiaan di
dalam ibadah ini merupakan deklarasi
nabi Muhammad yang harus dijalankan umatnya.[14]
Turunnya Al- Quran sebagai Rahmatan
Lil’Alamin, membawa banyak pelajaran guna dijadikan acuan dalam kehidupan
manusia sehingga dapat mencetak peradaban yang sempurna. Al- Quran merupakan
tonggak utama peradaban islam, kata Rahmatan Lil’Alamin mengansumsi umat
islam untuk memiliki mindset bahwa Al- Quran sebagai pusat perdamaian dan
peradaban yang disebarkan kedalam
kehidupan masyarakat global. Maka, sebagai umat madani berlandaskan islami
memiliki andil dalam mengimplementasikan nilai- nilai keagamaan yang telah
ditetapkan di dalam Al-Quran, manakala semua itu dapat dipahami dan dijadikan
pedoman umat, maka al-Quran akan benar- benar menjadi keukatan dalam membangun
peradaban unggul.
Daftar Pusaka
Qosim Nurseha Dzulhadi, Islam Sebagai Agama Dan Peradaban, TSAQAFAH
Jurnal Peradaban Islam: Vol.11, No.1, Mei 2015.
M. Luthfi, ‘Membumikan Al- Quran: Peluang Dan Tantangan’, Al
Qalam 20, no.98, 2003
Muhammad Taufik, STUDI AL- QURAN SEBAGAI PEMICU- PEMACU
PERADABAN: TELAAH SOSIO- HISTORIS, FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan
Kemasyarakatan, Vol. 03 No. 02, Juli- Desember 2019
Abd Wahid, Al- Qur’an Sumber Peradaban, Jurnal Ushulluddin
Vol.XVIII No.2, Juli 2012
[1]Qosim Nurseha
Dzulhadi, Islam Sebagai Agama Dan Peradaban, TSAQAFAH Jurnal Peradaban Islam: Vol.11,
No.1, Mei 2015, 151- 168
[2]Ibid, h. 151
[3]M. Luthfi, ‘Membumikan
Al- Quran: Peluang Dan Tantangan’, Al Qalam 20, no.98 (2003): 21- 40.
[4]Muhammad
Taufik, STUDI AL- QURAN SEBAGAI PEMICU- PEMACU PERADABAN: TELAAH SOSIO-
HISTORIS, FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan, Vol. 03 No.
02, Juli- Desember 2019
[5] Ibid, h.139
[6] Ibid, h.140
[7] Abd Wahid, Al-
Qur’an Sumber Peradaban, Jurnal Ushulluddin Vol.XVIII No.2, Juli 2012, 114
[8] Muhammad ali-
Al- Shabuni, Sofwah al- Tafsir, Syarikah Abna’ Syarif Al- Ansari,
Beirut, tth. H.1521.
[9] Ibn Asur, Al-
Tahwir Wa Tanwir jilid 5, h. 11
[10] Al- Qurthubi, Jami
al- Ahkam al- Quran juz 2, h. 241
[11] M. Yusuf Musa,
Al- Fiqh Al- Islam, h. 217
[12] Op.cid, Abd
Wahid, h.116
[13]
Ibid, h.116
[14]Ibid,
h.117