Saturday, September 26, 2020

 

Sosialisasi Nilai SHAPUZAHAJ (Shalat, Puasa, Zakat, Haji) Dalam Kehidupan Sebagai Bentuk Implementasi Umat Madani Dalam Melahirkan Peradaban Islam.

            Islam merupakan sebuah agama sekaligus peradaban yang sejak kehadirannya telah membawa konsep dan misi peradaban yang inheren dalam dirinnya. Peradaban islam bersumber pada Din: agama, yang berasal dari wahyu Allah. Oleh sebab itu, peradaban biasa dikenal dengan istilah tamaddun/ madaniyyah, karena bersumber pada Din tersebut.[1] Maka umat madani sendiri dapat disimpulkan sebagai umat yang memajukan peradaban. Pusat tamaddun Islam dalam sejarah bertempat di Yatsrib yang kelak berubah menjadi Madinah. Maka, kota Madinah menjadi tempat diploklamirkannya peradaban islam tersebut kepada dunia. Menurut Muhammad ‘Abduh, kata madaniyyah memang lebih tepat digunkan untuk menyebut peradaban islam.[2]  

Berangkat dari hal tersebut, sumber peradaban islam ialah agama islam itu sendiri, dan sumber dari agama islam ialah Al- Quran dan Hadits sebagai penjelasnya. Oleh karena itu, Al- Quran dijadikan sebagai sumber pokok pembentukan peradaban ini. Al-Quran menduduki posisi yang sangat vital juga terhormat dalam kehidupan masyarakat muslim dunia. Karena selain sebagai pedoman, Al-Quran juga merupakan sumber peradaban yang bersifat historis dan universal. Dengan kata lain, fungsinya sebagai pedoman ini menjadi pusaka pegangan umat manusia dalam mengemban amanah kekhalifahan di muka bumi ini.[3] Posisinya yang demikian penting itu, membuat Al-Quran menjadi pusat perhatian yang besar dalam khazanah keilmuan islam, berawal dari zaman Rasulullah Saw. hingga era kontemporer.

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwasannya Islam dan peradaban merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, maka  apakah benar islam yang berpedoman pada Al- Quran memiliki andil yang besar dalam peradaban dunia ini?

Al- Quran sebagai pedoman hidup mausia, kebenaran dan kebaikan implementasinya dikembalikan kepada umat islam sendiri, apakah umat islam benar- benar mentadabburi dan melaksanakan isi Al- Quran tersebut atau tidak. Memang benar bahwa membacanya dapat menghasilkan pahala. Namun persoalannya ialah bahwa Al- Quran sebagai petunjuk sekaligus pengingat manusia akan menjadi sulit atau bahkan tidak berperan secara signifikan sesuai kehidupan manusia, jikalau membacanya tanpa ada pemahaman sama sekali ataupun sebaliknya, jika telah dipahami namun tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari. Maka, dari sinilah dapat terlihat betapa pentingnya Al- Qur’an itu dalam sebuah kehidupan, dan perlu ditegaskan bahwasannya Al- Quran mengandung banyak motivasi dan prinsip- prinsip moral yang bersifat normatif[4].

Sebuah peradaban yang kokoh selalu ditopang  dengan empat asas utama, diantaranya ialah kekuatan poitik, kekuatan ekonomi, lembaga- lembaga pendidikan yang berkualitas, dan nilai- nilai keagamaan yang menjadi sumber utama tujuan hidup. Keempat asas ini menjadi sebab utama kejayaan islam di abad- abad yang lalu.[5] Namun, pokok inti dari keempat asas diatas ialah nilai- nilai keagamaan yang menjadi sumber utama hidup, hal tersebut dapat dilihat dari janji Allah yang akan mewariskan bumi ini kepada hamba- hamba nya yang shaleh. Mengingat kembali tujuan diciptakannya manusia ke muka bumi ialah sebagai khalifah, maka dalam melaksanakan misi kekhalifahan manusia, sebagai jalan untuk membangun peradaban di muka bumi ini, hal tersebut tidak dapat terlepas dari perihal keshalehan, yang bersumber dari nilai- nilai keagamaan.

Saleh dalam dimensi esoterik ialah mereka yang beriman teguh, berhati dan beperilaku mulia, mereka yang senang dan taat beribadah. Adapun saleh dalam dimensi ekosetrik ialah mereka yang mampu bekerja secara profesional serta memiliki skill dan kompetensi. Karena manusia yang memiliki pribadi seperti itulah yang akan dipercaya oleh Allah Swt juga oleh manusia. Yaitu mereka sang visioner- orang- orang  yang layak menjadi pemimpin.[6]

            Setelah mengetahui pokok dari asas- asas peradaban ialah terdapat dalam nilai- nilai keagamaannya, maka perlu adanya implementasi nilai- nilai tersebut kedalam kehidupan manusia, guna mewujudkan peradaban islam yang bertonggak Qurani.  Nilai- nilai utama dalam agama islam ialah terdapat pada Ibadah yang telah disyari’atkan oleh Allah di dalam Al- Quran. Juga ibadah yang menjadi rukun islam bagi para muslim. Diantara nilai- nilai tersebut ialah yang terdapat pada Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji.[7]

1.      Kewajiban Shalat

Shalat merupakan pillarnya agama islam. Ibadah shalat membentuk dua hubungan, yaitu hubungan vertikal kepada Allah dan horizontal kepada manusia. Hubungan horizontal tehadap manusia dapat diambil dalam kesempatan shalat berjama’ah. Dengan adanya shalat berjama’ah maka akan menjalin tali silaturahmi, terlebih agama islam mensyari’atkan bagi kaum adam untuk shalat jum’at. Maka dalam kesempatan itu pula umat muslim dapat memperkuat tali persaudaraan diantara mereka.

Hal yang terpenting dari ibadah shalat ialah, akan lahir manusia- manusia yang bersih jiwanya dari berbagai pengaruh kehidupan manusia yang distruktif[8], pernyataan ini diperjelas oleh firman Allah dalam surat Al- Ankabut ayat 45:

“Dirikanlah Shalat Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran”

Perbuatan keji merupakan perbuatan  yang  tidak memiliki moral, yang akan mengakibatkan manusia jatuh kejurang kehinaan jauh dari derajat manusia yang sesunggunya. Maka shalat sebagai penangkal dari kerusakan baik individu maupun masyarakat.[9]

2.      Kewajiban Zakat

Metode pengumpulan zakat serta pendistribusiannya menjadi satu model dalam usaha menciptakan kemaslahatan umat, keharmonisan didalamnya serta menjadi sarana perekat umat. Pendistribuan Zakat telah ditetapkan Allah dalam surat al- Taubah ayat 60:

“Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat- zakat) itu hanyalah untuk orang- orang fakir, orang- orang  msikin, amil- amil zakat, .....”

Menurut al- Qurthubi, dana shadaqah, infaq, dan santunan kepada kaum Dhu’afa untuk memberantas kemiskinan, dapat dikembangkan lebih lanjut.[10] Adapun menurut M Yusuf Musa sumber- sumber seperti ini merupakan sumber dana yang tak terbatas, karena zakat merupakan kewajiban yan tidak pernah habis.[11] Jika sistem distribusi dan pendanaan ini mampu dikelola dengan baik, maka hal ini menjadi kontribusi besar umat islam dalam membangun masyarakat.

3.      Kewajiban Puasa

Peradaban tidak akan pernah lepas dari segala aspek kehidupan masyarakat. Selain beradab dalam politik, ekonomi, dan hukum, peradaban juga diperlukan dalam bermasyarakat. Peradaban juga dinamakan dengan civilization, yaitu suatu istilah dalam menggambarkan keteraturan yang menggambarkan sebuah kemajuan serta kemakmuran.[12] Namun keteraturan tidak akan ada tanpa kehendak kuat dalam mengendalikan kemauan atau ego masing- masing. Maka disinilahperan ibadah puasa dalam mengembalikan fitrah manusia. Karena puasa mampu membuat manusia bertindak menguasai, bukan dikuasai egonya sendiri. Penguasaan terhadap ego sendiri merupakan hasil dari perang besar melalui ibadah puasa. Secara fisiologis, puasa menurunkan metabolisme tubuh. Maka puasa diibaratkan alat pendingin mesin tubuh yang panas. Maka dengan tubuh yang demikian, pikiran menjadi jernih dan efisien.[13]

4.      Ibadah Haji sebagai deklarasi Peradaban Kemanusiaan.

Pembangunan ka’bah merupakan pembangunan peradaban dunia baru yang dibangun oloeh Ibrahim. Peradaban yang dibangun tidak berdasarkan nilai- nilai materialisme, melainkan dasar dari nilai- nilai keilahiyan  yang bersifat spiritual. Melalui ibadah haji, umat islam dituntut untuk mencari pencerahan diri dengan cara intropeksi diri selama di tanah suci dalam rangka membangun peradaban baru di tempat masing- masing dengan menjunjung tinggi nilai- niali kemanusiaan. Sebagaimana khutbah Nabi Muhammad pada haji wada yang intinya menekankan sebuah persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan  kehormatan orang lain, serta larangan melakukan perilaku keji terhadap kaum yang lemah. Makna nilai kemanusiaan di dalam ibadah ini merupakan deklarasi  nabi Muhammad yang harus dijalankan umatnya.[14]

Turunnya Al- Quran sebagai Rahmatan Lil’Alamin, membawa banyak pelajaran guna dijadikan acuan dalam kehidupan manusia sehingga dapat mencetak peradaban yang sempurna. Al- Quran merupakan tonggak utama peradaban islam, kata Rahmatan Lil’Alamin mengansumsi umat islam untuk memiliki mindset bahwa Al- Quran sebagai pusat perdamaian dan peradaban yang  disebarkan kedalam kehidupan masyarakat global. Maka, sebagai umat madani berlandaskan islami memiliki andil dalam mengimplementasikan nilai- nilai keagamaan yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran, manakala semua itu dapat dipahami dan dijadikan pedoman umat, maka al-Quran akan benar- benar menjadi keukatan dalam membangun peradaban unggul.

 

 

 

Daftar Pusaka

Qosim Nurseha Dzulhadi, Islam Sebagai Agama Dan Peradaban, TSAQAFAH Jurnal Peradaban Islam: Vol.11, No.1, Mei 2015.

M. Luthfi, ‘Membumikan Al- Quran: Peluang Dan Tantangan’, Al Qalam 20, no.98, 2003

Muhammad Taufik, STUDI AL- QURAN SEBAGAI PEMICU- PEMACU PERADABAN: TELAAH SOSIO- HISTORIS, FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan, Vol. 03 No. 02, Juli- Desember 2019

Abd Wahid, Al- Qur’an Sumber Peradaban, Jurnal Ushulluddin Vol.XVIII No.2, Juli 2012

 

 

 

 

 



[1]Qosim Nurseha Dzulhadi, Islam Sebagai Agama Dan Peradaban,  TSAQAFAH Jurnal Peradaban Islam: Vol.11, No.1, Mei 2015, 151- 168

[2]Ibid, h. 151

[3]M. Luthfi, ‘Membumikan Al- Quran: Peluang Dan Tantangan’, Al Qalam 20, no.98 (2003): 21- 40.

[4]Muhammad Taufik, STUDI AL- QURAN SEBAGAI PEMICU- PEMACU PERADABAN: TELAAH SOSIO- HISTORIS, FUADUNA: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan, Vol. 03 No. 02, Juli- Desember 2019

[5] Ibid, h.139

[6] Ibid, h.140

[7] Abd Wahid, Al- Qur’an Sumber Peradaban, Jurnal Ushulluddin Vol.XVIII No.2, Juli 2012, 114

[8] Muhammad ali- Al- Shabuni, Sofwah al- Tafsir, Syarikah Abna’ Syarif Al- Ansari, Beirut, tth. H.1521.

[9] Ibn Asur, Al- Tahwir Wa Tanwir jilid 5, h. 11

[10] Al- Qurthubi, Jami al- Ahkam al- Quran juz 2, h. 241

[11] M. Yusuf Musa, Al- Fiqh Al- Islam, h. 217

[12] Op.cid, Abd Wahid, h.116

[13] Ibid, h.116

[14]Ibid, h.117

Thursday, October 10, 2019

Ayo Hijrah Muslimah


Tips Hijrah ↓


Nabi Muhammad S.A.W bersabda bahwasannya Orang yang berhijrah itu ialah yang meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah S.W.T.
 hai para Muslimah, let's change our life  be a meaningfull. hidup itu sangat sayang untuk disia-siakan, selagi kita udah tau kalo misalnya hidup itu just once, no more. :) yang setelah itu, kita di bangkitkan cuma untuk dihitung amal perbuatan kita selama di dunia.
Zaman sekarang, seringkali orang berkata "Ustadz/ Ustadzah saya ingin berhijrah" Hijrah tidak hanya keluar dari perkataan, atau hanya status-status hijrah di medsos. Banyak zaman sekarang yang ingin berhijrah tapi hanya perkataan dan angan-angan saja. So, disini aku ingin membagi bagaimana sih cara hijrah agar bisa benar-benar merubah pribadi menjadi lebih baik.

 1. Yang pertama, yang perlu kita perhatikan adalah Tauhid dan akhlak kita
      Tauhid dan akhlak merupakan 2 hal yang memiliki kesinambungan yang sangat kuat. karena ketika kita belajar tauhid, otomatis kita belajar untuk mendekat dengan Allah. Dan orang-orang yang ingin dekat dirinya dengan Allah, mereka selalu ingin terlihat baik dalam pandanganNya. Maka semakin dia dekat dengan Allah pasti disana ada ikatan yang kuat. Ikatan itu dalam kata lain berupaka akad, dan akad diambil dari kata "akidah". Makanya coba sekarang kita pikir guys, dimana ada kata "Akidah" pasti disampingi dengan kata "akhlak", bahkan ada pelajaran "akidah akhlak" yang mana akidah disini adalah ilmu tauhid . Oleh sebab itu, siapapun yang memiliki ikatan dengan Allah maka ia  tentu akan memiliki akhlah yang mulia.

2. Bertaubat
    Kita tentu sebagai manusia tidak pernah luput dari dosa, untuk itu tios hijrah selanjutnya adalah bertaubat. Bagaimana caranya bertaubat? kita melakukan shalat taubat. pertama kita mandi, berwudlu lalu shalat sunat taubat dan  banyak beristighfar, dan berjanji kepada Allah tidak akan mengulangi kesalahan kita lagi. Jika bisa lebih baik, kita berdoa hingga menangis, mengeluarkan air mata kita.

3. Besihkan Hati
Selanjutnya ialah mari kita bersihkan hati kita, dari segala sesuatu yang kotor. Kita bersihkan hati kita dengan cara selalu beristighfar kepada Allah, karena InsyaAllah dengan banyak n=beristighfar dosa-dosa kecil kita akan terkikis menjadi lebih tipis

4. Niat Hijrah Karena Allah
 Dalam hal ini, banyak sekali orang yang salah dala berniat. Bahkan ada yang berniat hanya karena seseorang, berniat hanya untuk dipandang lebih baik oleh manusia, namun hakikatnya niat hijrah yang paling benar ialah hijrah karena Allah.

5. Begaul dengan orang-orang yang shaleh
Agar  kita iqtiqomah dalam berhijrah, maka alangkah lebih baik kita bergaul ataupun berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi misi yang selaras dengan tujuan kita. yaitu visi misi akhirat. DAalam hal ini  kita harus pintar-pintar dalam bergaul.